HARI PERTEMUANKU DENGANNYA
“Ayo-ayo buruan nanti kemaleman......” seruku pada kawan_kawanku yang sepekerjaan.
Sore hari dimana semua orang yang berada dalam petak-petak kontrakan pulang dari pekerjaannya dan melepas penat setelah bekerja keras dengan otak dan otot, lebayung warna langit yang begitu indah untuk dipandang oleh orang-orang yang lelah.
Saat itu aku baru beumur delapan belas tahun dan telah menggeluti pekerjaannya enam bulan kurang lebih, berpakaian minim untuk menarik perhatian orang agar menggunakan jasaku dengan tubuh yang ramping dan kulit mulus aku termasuk salah satu yang terbaik dalam pekerjaanku dan selalu mendapat pujian dari kawan-kawanku karena kecantikanku, namu aku tak terlalu membanggakan diri untuk itu karena pikirku masih banyak yang cantik dalam pekerjaanku, aku hanya tersenyum ramah saat kawanku berbicara seperti itu.
Pemuda-pemuda menggoda kami saat hendak beranjak ke tempat kerja kami, seperti jarang sekali melihat wanita di dalam pekerjaannya, mungkin benar juga imbuhku dalam hati. Mereka bekerja dengan normal dan tak ada pegawai-pegawai wanita yang menggunakan pakaian minuim seperti kami dan memang peraturan dalam pekerjaan yang normal tidak diperbolehkan untuk berpakaian minim, aku berankat dengan tiga orang kawanku.
Menyetop kendaraan umum untuk mengantar kami ke tempat kerja kami karena tak adanya dana untuk membeli kendaraan agar kami tak selalu menggunakan jasa angkot, uang yang kami terima tidak terlalu besar untuk membeli sebuah sepeda motor, kebutuhan kami banyak sehingga uang yang kami dapatkan kami sisihkan antar kebutuhan dan kesenangan.
Sesampainya di tempat kerja kami langsung menuju ruang loker untuk beganti pakaian semenarik mungkin dan bersolek, itupun tak dilakukan sendiri karena adanya yang mendandani kami seorang waria yang lihai untuk mengubah kami menjadi lebih cantik dengan keluwesan tangannya, dua seorang waria yang baik hati terhadap kami dan menganggap kami selayaknya anak mereka sendiri. Sehingga kami pun menganggapnya orang tua yang menjadi tempat mencurahkan hati sebab kami hidup jauh dari keluarga.
Hidup seorang diri jauh dari keluarga menuntun kami menjadi pribadi yang mandiri tak tahu harus mencurahkan kepada siap, tak bisa selalu menelpon sebab biaya, sehingga sosok waria ini kami anggap pengganti orang tua yang selalu menerima keluh kesah. Sosoknya yang lembut dan memperlakukan kami seperti layaknya anak membuat kami menyangi dengan sepenuh hati, apa yang akan terjadi bila kami tak menemukan sosok seperti itu, tak semua kawan dapat di percayakan untuk menjadi tempat mengeluarkan keluh kesah kami saat bekerja.
“ayo cepat dah ada tamu di depan....” seorang wanita memecah lamunanku saat dirias oleh emak panggilan kami kepada waria yang merias wajahku.
“Iya mam” seru kami serentak terhadapnya yang menjadi manager kami.
Kami beranjak dari ruangan tak terlalu besar untuk berkontes agar dipilih oleh pelanggan yang ingin menggunakan jasa kami untuk menemaninya bernyanyi dalam ruangan karaoke tempat kerja kami.
Tiga orang lelaki yang sedang memandangi kami untuk dipilihnya sesuai dengan keinginan merka untuk menemaninya bernyanyi, aku terpilih dan dua orang lagi kawanku sebut saja namanya indah dan dewi lantas yang tak terpili akan menunggu pelanggan yang lain yang akan menggunakan jasa mereka. Satu persatu duduk disamping lelaki dan memegang sebuah microphone dan berjabat tangan mengenalkan nama kami masing-masing
“intan” sebut namaku kepada pelanggan
“anton” jawabnya
“mao nyanyi apa om?” tanyaku kepadanya
“lagu dalem negeri aja aku tak biasa menyanyikan lagu barat” anton menjawab pertanyaanku.
Aku memilih lagu-lagu sedangkan yang lain sedang berbicang-bincang agar lebih akrab, akupun bernyanyi sambil memberikan mic lainya kepada Anton “bias kan om?” tanyaku dan ia mengangguk memberi jawaban pertanyaanku dan mengambil mic tersebut dari tanganku, dan kami bernyanyi besama seperti penyanyi aslinya yang sengaja kupilih untuk berduet seperti penyanyi aslinya.
Lagu kamipun selesai dan indah mengambil mic dariku dan Anton sambil tersenyum kepada Anton sambil berucap “gantian ya om, mao nyanyi sama om Raka neh” katanya sambil tersenyum ramah, Indah juga memiliki tubuh yang bagus serta wajah yang cantik daya tariknya teramat besar sehingga lelaki sering menginginkannya untuk menjadi kekasihnya namun Indah sering menolaknya karena pikirnya lebih nyaman seperti ini tidak ada lelaki yang mengatur hidupnya.
Sesaat Indah dan om Raka bernyanyi aku berbincang dengan Anton dan meminta dibelikannya minuman
“Kamu mau minum apa?” tanyanya setelah mendengar permintaanku
“Apa aja om asal ga ada racunnya” candaku
“Ya udah pesen aja yang Intan inginkan, sekalian untuk semuanya” pesannya sesaat aku ingin menghubungi operator yang siap di balik telepon paralel yang sengaja dipasang untuk memudahkan pekerjaan,
“Halo ada yang bias dibantu?” tanyanya di balik telepon parallel
“Iya mas, aku pesen long island tiga sama... om mau apa....?” tanyaku sesaat
“Satu botol wishkey sama cemilan aja” jawabnya
“Hlao mas, tiga long island sama wishkey...... oya sama French fries dua porsi” kataku kepada operator
“Iya segera diantar ke ruangan” jawab operator kepadaku
“oke deh jangan pake lama ya....” candaku sebelum menutup teleponnya dan kembali duduk disampin Anton yang memandangiku sedari tadi dengan pandangan yang tak biasa.
“Ga apa-apa neh om banyak pesenannya?” tanyaku karena tatapannya dari tadi
“jangan manggil om, mas aja ya tan.... ga apa-apa kok” imbuhnya kepadaku sedangkan indah dan dewi sedang asik bernyanyi dengan pelanggan-pelanggan yang lain.
Dua jam bergulir tak terasa dan Anton memilih untuk menyegerakan kegiatan senang-senang dengan kami dan meminta nomer HPku agar mudah menghubungiku imbuhnya dan aku memberikannya nomerku, dan anton member uang tip kepada kami sama besar agar tidak ada kecemburuan terhadap kami, dan kami menerima dengan tersenyum lebar karena uang tersebut terbilang besar untuk sebuah uang tip dan Anton serta kawannya meninggalkan tempat ini dengan mobil mewahnya setelah mengurus biaya,hari itu adalah pertemuanku dengan Anton.